Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2025

💭Unspoken Thoughts (4)

Gambar
Minggu Ini Aku Gagal Lagi (Tapi Mungkin Itu Cara Semesta Menjagaku) Aku nggak tahu harus mulai dari mana, tapi minggu ini rasanya kayak perjalanan yang melelahkan sekaligus membukakan mata. Bukan perjalanan yang indah, tapi juga bukan sesuatu yang ingin aku hapus. Karena di tengah rasa malu, takut, dan ragu, aku akhirnya belajar sesuatu yang nggak pernah diajarkan di bangku kuliah: tentang menghadapi dunia kerja, dan yang lebih sulit, menghadapi diriku sendiri. Seminggu ini aku masuk ke dunia baru. Dunia yang sebelumnya cuma aku lihat dari layar laptop dan cerita orang. Dunia yang katanya harus dimasuki orang dewasa. Dunia bernama "kerja". Aku sempat merasa siap. Aku kirim lamaran ke sana sini. Aku sempat diundang interview ke perusahaan yang menurutku keren: agensi kreatif. Bahkan aku diterima. Posisinya sebagai content creator dan FYP specialist. Sebuah peran yang seharusnya membuatku bangga — karena banyak orang pengen masuk ke sana, sementara aku justru diterima. Hari per...

Melacak Akar Patriarki: Sejarah Sebuah Kuasa

Gambar
Kadang kita tumbuh besar di dunia yang udah punya aturan-aturan yang terasa “wajar”. Cewek harus lembut, cowok harus tegas. Cewek nurut, cowok mimpin. Padahal, kalau dilihat dari sejarah, semua itu bukan soal kodrat atau takdir biologis. Itu dibentuk—oleh kebudayaan, oleh sistem. Dan sistem itu bernama patriarki. Kalau ditelusuri lebih jauh, akar dari patriarki itu bukan muncul tiba-tiba. Ia muncul ketika manusia mulai menetap dan bercocok tanam. Ketika tanah bisa diwariskan, saat itulah sistem mulai peduli pada garis keturunan. Dan karena pewarisan properti harus jelas, perempuan jadi dikontrol ketat. Siapa yang menikahinya, siapa yang “menghamilinya”, itu harus dipastikan. Perlahan-lahan, tubuh perempuan bukan lagi milik dirinya sendiri, tapi jadi bagian dari struktur warisan. Ia dikurung dalam sistem yang dibuat bukan untuk melindunginya, tapi untuk menguasainya. Seiring waktu, budaya dan agama ikut memperkuat itu. Di banyak mitologi kuno, perempuan sering digambarkan sebagai sosok ...

Feminisme: Bukan Tentang Membenci Pria, Tapi Tentang Kesetaraan yang Sebenarnya

Gambar
  Kadang kalau denger kata “feminisme,” yang terbayang di kepala orang tuh cewek-cewek galak yang benci cowok. Padahal, sebenarnya feminist itu cuma orang-orang yang percaya kalau perempuan dan laki-laki itu harus punya hak dan kesempatan yang sama dalam segala hal. Gak lebih, gak kurang. Di Indonesia, feminisme kadang masih dianggap “asing” atau “berlebihan,” apalagi kalau ngomongin soal gender roles yang sudah nempel banget di budaya kita. Misalnya, perempuan harusnya di rumah urus dapur, laki-laki harusnya kerja cari uang. Padahal, siapa bilang? Kalau kita lihat di dunia nyata, banyak perempuan hebat yang juga bisa sukses di karier, jadi pemimpin, dan punya suara yang penting. Aku sendiri sempet mikir, “Kenapa sih harus ribet-ribet ngomongin feminisme? Kan aku juga bisa hidup biasa-biasa aja.” Tapi lama-lama aku sadar, feminisme itu sebenarnya tentang melawan ketidakadilan yang kadang gak kelihatan. Kayak misalnya, waktu di kelas atau kampus, suara perempuan sering kali dianggap...

💭Unspoken Thoughts (3)

Gambar
Aku, Makanan, dan Bau yang Gak Pernah Sepakat (Curhat dari Seorang Sensory Sensitive Girl) Kadang aku suka mikir, kenapa ya daging sapi kurban itu rasanya selalu gak enak di lidahku? Mau dimasak apa pun — digoreng, disemur, bahkan dibikin rendang pun, aku tetap ngerasa “nggak bisa deh.” Padahal kalau beli rendang di warung, atau makan sate ayam di tukang sate, rasanya bisa aja aku lahap. Aneh, ya? Ternyata itu gak berhenti di daging kurban aja. Ayam kampung yang baru disembelih — atau dalam bahasa Sundanya “di pencit” — juga bikin aku ilfeel. Apalagi kalau itu ayam dari peliharaan kakek sendiri. Rasanya makin gak tega, makin gak mau makan. Tapi kalau ayamnya udah dari tukang pecel ayam, udah jadi ayam bakar, atau ayam geprek, entah kenapa jadi bisa aku makan tanpa mikir panjang. Ikan pun sama. Ikan yang amis, apalagi dari empang, auto bikin aku minggir. Tapi giliran tongkol dari pasar, cumi asin, atau ikan bakar dari warung, aku masih bisa nikmatin. Tapi ya, harus ada sambel. Harus ban...

💭Unspoken Thoughts (2)

Gambar
  Aku tuh kadang suka mikir… kenapa ya aku segampang itu ngerasa kehilangan, padahal orangnya aja kadang belum terlalu deket. Kadang cuma ngobrol beberapa hari doang, tapi kalo dia tiba-tiba ngilang, aku bisa sediem itu. Kayak kehilangan sesuatu yang... bahkan belum jadi milikku. Mungkin ini terdengar lebay ya, tapi ya emang gini kenyataannya. Aku tuh gampang banget ngerasa "terikat", bahkan sama temen chat. Entah itu dari bot Telegram atau dari mana pun. Pas lagi asik-asiknya ngobrol, terus tiba-tiba dia ngilang atau gak bales, aku bisa jadi gak mau buka aplikasinya lagi. Aku gak tahu ini masuknya ke overthinking atau gimana. Tapi tiap orang ngilang tuh rasanya langsung muncul pikiran sendiri: apa aku salah bales ya? Apa aku ngebosenin? Apa dia udah gak tertarik lagi? Padahal kadang aku sendiri juga belum tau pasti perasaanku ke dia. Jujur, aku ngerasa aku hopeless romantic. Banget. Aku gampang ngebayangin skenario lucu atau manis bareng seseorang, padahal orangnya bahkan ga...

Pilihan untuk tidak menikah dan stigma sosialnya

Gambar
  Ada masanya aku berpikir... apakah hidup itu harus selalu diarahkan ke satu tujuan yang sama? Sekolah → kerja → menikah → punya anak → menua. Rasanya seperti skrip hidup yang sudah disiapkan bahkan sebelum kita bisa berkata “tidak.” Tapi semakin hari, aku sadar bahwa tidak semua orang merasa nyaman dengan pola yang ditentukan itu. Dan lebih dari itu, tidak semua orang mau menikah. Bukan karena trauma, bukan karena gagal cinta, bukan karena anti-romantis. Tapi karena sadar bahwa hidup punya banyak bentuk bahagia. ◇Sejarah yang Panjang Di banyak kebudayaan, termasuk di Indonesia, pernikahan bukan hanya dianggap sebagai momen pribadi—tapi institusi sosial yang sakral. Dalam adat Jawa, misalnya, menikah itu bukan cuma urusan dua insan, tapi dua keluarga besar. Dalam masyarakat Batak, seseorang dianggap belum "lengkap" kalau belum menikah dan punya anak. Di Bali, konsep keluarga sakral bahkan ikut menempatkan laki-laki sebagai penerus garis keturunan dan perempuan yang menikah k...

💭Unspoken Thoughts

Gambar
Aku bukan tipe orang yang gampang nyambung sama siapa aja. Small talk itu susah banget buat aku. It feels like I have to borrow someone else’s character that’s not really me. Aku sering bingung harus mulai dari mana, harus ngomong apa, akhirnya malah pilih diem. Bukan karena aku gak care, tapi karena otakku penuh banget sama keributan. Maybe that’s why aku belum pernah benar-benar dekat sama seseorang, especially romantically. Di depan cowok, aku selalu ngerasa awkward. It’s like I’m nobody, like I’m always missing something—less this, less that. Kadang aku mikir, “Who would even be interested in me?” And that thought quietly sticks in my head. But as I grow, aku mulai sadar: itu bukan karena aku gak layak. Aku lagi ada di fase yang confusing banget—fase buat nyari tahu siapa aku sebenernya. Quarter-life crisis, they say. But for me, it’s more than a crisis. It’s a silent journey full of questions. Aku sedang belajar berdamai dengan diriku yang imperfect. Aku belajar jadi diri sendiri,...

#3Kenapa Aku Sepakat Sama Tan Malaka Soal Kemerdekaan

Gambar
  Di antara suara-suara lantang kemerdekaan Indonesia, ada satu suara yang terdengar beda. Suara yang gak ikut larut dalam gegap gempita proklamasi, tapi justru memberi pengingat: “Jangan senang dulu, perjuangan belum selesai.” Itu suara Tan Malaka—sosok misterius, revolusioner sejati, pemikir tajam yang sering dipinggirkan dari narasi resmi sejarah Indonesia. Tan Malaka pernah bilang: "Kemerdekaan yang setengah-setengah hanya akan membuat kita dijajah kembali dalam bentuk lain." Pernyataan ini mungkin terasa nyinyir atau skeptis di tengah euforia kemerdekaan waktu itu, tapi justru di situlah letak kejeniusannya. Dia sadar, kemerdekaan bukan cuma soal bendera, lagu kebangsaan, atau pengakuan internasional. Bagi Tan, kemerdekaan sejati itu ketika rakyat benar-benar berdaulat atas hidupnya. Tan Malaka gak puas dengan kemerdekaan formal yang diproklamasikan 17 Agustus 1945. Karena menurut dia, kalau elite politik yang naik cuma ganti kulit dari penjajah lama, tapi struktur ekon...

#2Ketika yang Merah Dihapus, Sejarah Jadi Sepihak

Gambar
Aku gak pernah diajarin banyak soal “kiri” waktu sekolah dulu. Yang aku tahu cuma satu kata yang terus diulang: bahaya.  Seakan-akan semuanya berbahaya kalau ada embel-embel kiri. Entah itu ide, buku, organisasi, bahkan nama orang. Tapi anehnya, semakin aku belajar sejarah, semakin aku sadar bahwa yang disebut “kiri” itu dulu bukan sekadar label. Itu adalah gerakan, pemikiran, dan orang-orang nyata yang punya pengaruh besar terhadap sejarah Indonesia. Dan pertanyaannya sekarang: Kalau mereka punya pengaruh, kenapa jejaknya malah dihapus? Di tahun-tahun awal kemerdekaan, “kiri” bukan hal yang haram. Justru banyak tokoh penting Indonesia yang terlibat aktif dalam gerakan kiri—baik dalam bentuk partai, serikat buruh, organisasi tani, atau sekadar dalam ideologi. Pemikiran-pemikiran kiri itu sering kali lahir dari ketimpangan sosial. Dari kemiskinan yang membatu. Dari rakyat yang terus bekerja tapi gak pernah punya kuasa. Gerakan kiri datang dengan gagasan tentang keadilan, pemerataan...

#1Sejarah Ditulis oleh Pemenang, Lalu Kemana Suara yang Kalah?

Gambar
Kita sering dibilang, sejarah itu pelajaran tentang masa lalu. Tapi seiring waktu, aku sadar: sejarah juga soal kuasa. Bukan cuma soal siapa yang melakukan apa, tapi siapa yang diizinkan bicara tentangnya. Dan lebih sering lagi: siapa yang dibungkam. Sebagai anak sejarah, aku belajar kronologi. Tanggal. Fakta. Tapi kadang aku berhenti di satu titik, terus mikir, “Apa iya cuma ini ceritanya?”  Kenapa sejarah itu terlihat rapi banget, padahal hidup manusia dulu (dan sekarang) nggak pernah sesederhana paragraf buku teks? Kita sering baca bahwa Belanda datang "membawa peradaban". Tapi kenapa suara mereka yang dijajah malah jarang disorot, kalaupun ada seringnya dalam posisi pasif atau kalah? Kita disuruh menghafal tanggal kemerdekaan, tapi lupa kalau banyak tokoh kecil di desa-desa yang ikut berjuang tanpa pernah masuk buku pelajaran. Dan yang paling menyentuh buatku: kenapa sejarah 1965 lebih sering dibahas dari sudut penguasa? Kenapa kita nggak pernah benar-benar mendengar cer...

Generasi Kita Bukan Malas, Tapi Burnout dan Bingung

Gambar
Sering kali kita dianggap generasi yang manja. Dikit-dikit ngeluh, kerja dikit capek, dibilang gampang nyerah, mental tempe. Padahal yang mereka lihat cuma permukaan, cuma keluhan yang sempat terdengar, bukan seluruh beban yang diem-diem kita pikul sendirian. Kita bukan malas. Kita cuma tumbuh di dunia yang begitu cepat berubah—dan jujur, gak semua dari kita punya kesempatan buat sekadar bernapas panjang. Bayangin aja, sebelum lulus kuliah kita dituntut udah harus punya portofolio, pengalaman magang, IPK tinggi, organisasi, networking, dan kadang sambil kerja freelance buat bantu orang tua. Bukan karena ambisi, tapi karena kondisi yang memaksa . Kita hidup di era yang katanya penuh peluang, tapi juga penuh tekanan. Apa-apa bisa dipelajari sendiri lewat internet, tapi itu juga bikin standar jadi makin tinggi. Semua orang jadi kelihatan keren, produktif, dan sukses di usia muda. Padahal banyak dari kita cuma bisa duduk bengong tengah malam sambil nanya: "Aku ini sebenernya lagi ngej...

Suara Pertama: Menulis untuk Mendengar Diri Sendiri

Gambar
Aku nggak tahu siapa yang akan baca tulisan ini. Atau mungkin nggak akan ada yang baca sama sekali. Tapi nggak apa-apa — karena dari awal, ruang ini memang bukan untuk ramai-ramai, tapi buat diriku sendiri. Kadang kita cuma butuh satu tempat kecil buat dengerin diri sendiri. Tempat yang gak minta likes, gak minta validasi. Tempat di mana suara-suara dalam kepala bisa ditulis pelan-pelan, sebelum mereka lenyap tanpa jejak. Aku selalu merasa lebih mudah bicara lewat tulisan. Ada hal-hal yang susah dijelaskan langsung, tapi bisa mengalir saat dituangkan jadi kata. Blog ini lahir dari kebiasaan kecil itu — menulis, bukan karena ingin didengar, tapi karena ingin memahami. Kadang tentang isi kepala yang sesak, kadang tentang hal-hal remeh yang entah kenapa terasa penting. Aku namakan blog ini Swaralikhita — suara yang ditulis. Karena ada banyak hal yang gak sempat diucap, tapi bisa tetap hidup lewat kata. Karena aku percaya, tulisan bisa jadi ruang paling jujur untuk diri sendiri. Nanti mun...