Feminisme: Bukan Tentang Membenci Pria, Tapi Tentang Kesetaraan yang Sebenarnya

 

Kadang kalau denger kata “feminisme,” yang terbayang di kepala orang tuh cewek-cewek galak yang benci cowok. Padahal, sebenarnya feminist itu cuma orang-orang yang percaya kalau perempuan dan laki-laki itu harus punya hak dan kesempatan yang sama dalam segala hal. Gak lebih, gak kurang.

Di Indonesia, feminisme kadang masih dianggap “asing” atau “berlebihan,” apalagi kalau ngomongin soal gender roles yang sudah nempel banget di budaya kita. Misalnya, perempuan harusnya di rumah urus dapur, laki-laki harusnya kerja cari uang. Padahal, siapa bilang? Kalau kita lihat di dunia nyata, banyak perempuan hebat yang juga bisa sukses di karier, jadi pemimpin, dan punya suara yang penting.

Aku sendiri sempet mikir, “Kenapa sih harus ribet-ribet ngomongin feminisme? Kan aku juga bisa hidup biasa-biasa aja.” Tapi lama-lama aku sadar, feminisme itu sebenarnya tentang melawan ketidakadilan yang kadang gak kelihatan. Kayak misalnya, waktu di kelas atau kampus, suara perempuan sering kali dianggap remeh. Atau di keluarga, keputusan besar sering cuma diambil oleh bapak atau kakak laki-laki. Itu contoh kecil dari patriarki yang bikin perempuan kayak aku harus berjuang lebih keras buat didengar.

Kalau ditarik ke belakang, jauh sebelum aku lahir, bahkan sebelum Indonesia merdeka, gerakan perempuan udah mulai menyala. Di awal abad ke-20, ada Kartini, yang lewat surat-suratnya berani mempertanyakan sistem yang menempatkan perempuan hanya di ruang domestik. Lalu ada Dewi Sartika, Rohana Kudus, Maria Ulfah, yang mulai membuka jalan agar perempuan bisa mengenyam pendidikan, bicara di ruang publik, dan menjadi bagian dari perubahan.

Tapi perjuangan itu gak selesai di situ. Di masa Orde Baru, perempuan dibentuk dalam satu citra: “ibu yang baik,” “istri yang setia.” Perempuan diatur negara. Yang berani beda—seringkali dilabeli sebagai ‘liar’, ‘nakal’, atau bahkan ‘komunis’. Banyak feminis Indonesia seperti Marsinah atau aktivis perempuan lainnya yang akhirnya hilang dari narasi besar sejarah kita.

Dan sekarang, ketika aku hidup di zaman yang (katanya) sudah bebas, ternyata isu feminisme masih relevan. Masih banyak perempuan yang gak didengar, gak diberi ruang aman, gak diberi hak penuh atas tubuh dan pilihan hidupnya sendiri. Di media sosial, feminis sering kali diledek. Di dunia nyata, perempuan masih ditanya, “Kapan nikah?” seolah-olah tujuan hidupnya hanya jadi istri. Ketika perempuan punya ambisi, dibilang terlalu keras. Ketika perempuan menolak, dibilang terlalu dingin.

Secara sosial, feminisme jadi ancaman bukan karena ia merusak nilai, tapi karena ia menggeser dominasi. Patriarki terlalu nyaman berada di posisi puncak. Maka wajar kalau feminisme sering disalahpahami. Tapi bagiku, feminisme bukan soal ingin menang. Bukan juga soal perempuan melawan laki-laki. Feminisme adalah soal keberanian: untuk didengar, untuk hidup utuh sebagai manusia, bukan hanya sebagai peran.

Feminisme juga gak selalu tentang aksi besar. Kadang ia hadir dalam bentuk sederhana: ketika perempuan mulai berkata “tidak” saat merasa tak nyaman, saat ia berani mengambil keputusan untuk dirinya sendiri, saat ia berhenti merasa harus selalu menyenangkan orang lain.

Feminisme juga ngajarin aku buat percaya diri, untuk gak takut ngomong, dan punya mimpi yang setinggi-tingginya tanpa harus takut dibilang “kebanyakan tuntut” atau “ga feminim.” Karena sejatinya, feminisme itu bukan tentang gimana kita harus jadi perempuan, tapi gimana kita harus diperlakukan dengan adil dan hormat.

Kalau kamu masih ragu sama feminisme, coba deh mulai dari hal kecil, kayak ngasih ruang buat cewek di sekitar kamu buat bicara dan didengerin, atau menolak stereotip yang ngebatesin peran perempuan. Karena perubahan besar itu dimulai dari langkah kecil.

Jadi, feminisme itu bukan soal benci laki-laki atau mau menguasai dunia, tapi soal menciptakan dunia yang lebih adil untuk semua, tanpa memandang gender.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Suara Pertama: Menulis untuk Mendengar Diri Sendiri

💭Unspoken Thoughts

Generasi Kita Bukan Malas, Tapi Burnout dan Bingung