Melacak Akar Patriarki: Sejarah Sebuah Kuasa
Kadang kita tumbuh besar di dunia yang udah punya aturan-aturan yang terasa “wajar”. Cewek harus lembut, cowok harus tegas. Cewek nurut, cowok mimpin. Padahal, kalau dilihat dari sejarah, semua itu bukan soal kodrat atau takdir biologis. Itu dibentuk—oleh kebudayaan, oleh sistem. Dan sistem itu bernama patriarki.
Kalau ditelusuri lebih jauh, akar dari patriarki itu bukan muncul tiba-tiba. Ia muncul ketika manusia mulai menetap dan bercocok tanam. Ketika tanah bisa diwariskan, saat itulah sistem mulai peduli pada garis keturunan. Dan karena pewarisan properti harus jelas, perempuan jadi dikontrol ketat. Siapa yang menikahinya, siapa yang “menghamilinya”, itu harus dipastikan. Perlahan-lahan, tubuh perempuan bukan lagi milik dirinya sendiri, tapi jadi bagian dari struktur warisan. Ia dikurung dalam sistem yang dibuat bukan untuk melindunginya, tapi untuk menguasainya.
Seiring waktu, budaya dan agama ikut memperkuat itu. Di banyak mitologi kuno, perempuan sering digambarkan sebagai sosok penggoda atau pembawa kekacauan. Dari kisah Eva di Kitab Kejadian sampai Pandora di Yunani Kuno, mereka selalu dijadikan alasan kenapa dunia jadi kacau. Di masa Yunani dan Romawi, perempuan bahkan nggak punya hak politik. Dan dari sanalah narasi itu terus diwariskan. Perempuan dianggap emosional, nggak rasional, nggak bisa jadi pemimpin. Laki-laki jadi standar “ideal”—rasional, kuat, dominan. Padahal itu semua dibentuk lewat narasi yang terus diulang-ulang.
Yang menarik, patriarki bukan cuma sistem di luar, tapi juga sistem di dalam kepala. Banyak laki-laki tumbuh dengan ajaran kayak “jangan cengeng”, “kamu laki-laki, harus kuat”, “kamu harus mimpin”. Dan ketika semua identitas itu dibangun di atas “harus berkuasa”, maka mereka akan merasa terancam ketika ada perempuan yang lebih pintar, lebih dominan, lebih tegas. Ego mereka dibesarkan dengan pemahaman bahwa perempuan adalah pengikut. Makanya ketika ada perempuan yang nggak sesuai pola, banyak dari mereka nggak tahu harus bersikap seperti apa—karena itu dianggap “mengganggu sistem”.
Aku nggak bilang semua laki-laki seperti itu. Tapi ini tentang sistem yang secara struktural memang memosisikan laki-laki di atas. Dan kita semua, baik laki-laki maupun perempuan, hidup di dalam sistem itu. Kita menyerap nilainya tanpa sadar. Kita bahkan mengulangi kalimat-kalimat yang diwariskan dari generasi sebelumnya—kayak cewek nggak boleh terlalu vokal, cowok yang terlalu lembut dianggap kurang jantan.
Yang bikin sedikit lega, sejarah juga mencatat perlawanan. Dari perempuan-perempuan masa revolusi, feminis awal, sampai hari ini. Sekarang perempuan mulai bersuara lebih luas—entah lewat tulisan, media sosial, podcast, bahkan obrolan sehari-hari. Kita pelan-pelan membongkar apa yang dulu dianggap “wajar”. Kita mulai sadar bahwa patriarki itu bukan kodrat, tapi konstruksi.
Dan kalau sesuatu dibangun oleh sejarah, maka kita juga bisa menjadi bagian dari sejarah yang membongkarnya.

Komentar
Posting Komentar