Postingan

Kiri-Kanan dan Realita yang Tidak Pernah Sempurna

Gambar
Kadang aku mikir, kalau dunia ini beneran jalan sesuai teori, mungkin hidup bakal lebih gampang. Aku selalu ngerasa lebih deket sama prinsip kiri. Rasanya adil banget kalau semua orang setara, gak ada jurang kaya-miskin, gak ada buruh yang ditindas sama pemilik modal. Ide tentang alat produksi dimiliki bareng-bareng dan hasilnya dibagi sesuai kebutuhan kedengarannya kayak mimpi indah. Source: Dennis Adhiswara on X Tapi masalahnya, dunia gak pernah sesederhana itu. Lihat aja sejarah. Uni Soviet di bawah Lenin dan Stalin awalnya pengen bikin masyarakat tanpa kelas. Semua tanah, pabrik, dan sumber daya diambil alih negara, katanya demi pemerataan. Tapi kenyataannya, negara jadi pegang kekuasaan mutlak. Siapa yang deket sama partai punya akses lebih besar: makanan, rumah, pakaian, bahkan mobil. Sementara rakyat kecil sering cuma bisa pasrah. Stalin malah bikin kontrol lebih ketat, dan tragedi kayak Holodomor di Ukraina jadi bukti kalau realita jauh banget dari cita-cita. Tiongkok di bawah ...

#4Srikandi Yang Menjadi Monster Rekayasa

Gambar
Sejarah sering kali ditulis dari kacamata pemenang, dan itu terasa banget kalau kita ngomongin soal tragedi 1965 dan organisasi Gerwani . Selama ini, banyak generasi termasuk kita tumbuh dengan narasi tunggal yang dipaksakan tentang siapa yang “benar” dan siapa yang “salah.” Nama Gerwani, misalnya, hampir selalu dikaitkan dengan stigma kejam, jahat, dan tak bermoral. Kita diajarkan bahwa mereka adalah bagian dari PKI yang brutal, seolah satu-satunya identitas mereka hanyalah "perempuan pendukung komunis" yang dikisahkan melakukan kekerasan tak manusiawi di Lubang Buaya. Source: CNN Indonesia Tapi ketika menggali dokumen, arsip, dan penelitian yang lebih independen, ceritanya jadi jauh lebih kompleks. Banyak sejarawan dan peneliti kemudian menemukan bahwa narasi tentang Gerwani itu sebagian besar hasil konstruksi Orde Baru. Misalnya, cerita soal anggota Gerwani yang “menyilet alat vital para jenderal” di Lubang Buaya, ternyata tidak pernah terbukti. Hasil otopsi resmi dari ti...

Nasionalisme Yang Retak

Gambar
Setiap tanggal 30 September datang, suasananya selalu sama: postingan tentang G30S memenuhi timeline, himbauan untuk mengenang jasa tujuh jenderal, dan peringatan tentang “bahaya laten PKI” yang entah kenapa masih digembar-gemborkan. Dulu, waktu masih kecil, aku ikut larut. Nonton film “Pengkhianatan G30S/PKI” di sekolah, deg-degan, ngerasa takut, dan akhirnya percaya bulat-bulat sama satu cerita PKI dalang segalanya, para jenderal itu pahlawan, dan Soeharto penyelamat bangsa. Source: Aktual.com Tapi sekarang, setelah belajar sejarah lebih dalam, semuanya terasa… berbeda. Semua yang dulu kelihatan jelas, ternyata buram. Semua yang dulu terasa pasti, ternyata penuh tanda tanya. Ternyata sejarah yang diajarin ke kita itu nggak sesederhana hitam dan putih . Ada konflik elite, perebutan kekuasaan di tubuh militer sendiri, kepentingan asing yang ikut main, dan… korban sipil yang jumlahnya ratusan ribu orang , tapi namanya nggak pernah disebut dalam buku pelajaran. Selama 32 tahun Orde Baru...

Yang Kubiarkan Tumpah di Antara Kata

Gambar
Awalnya aku nulis cuma karena gelisah. Nggak ada niat jadi writer, nggak ada rencana buat ngejar profesi content writer atau copywriter. Aku cuma pengin nulis apa yang ada di kepala, karena jujur, terlalu banyak yang muter-muter dan nggak tahu harus kemana. Blogspot jadi pelampiasan paling sunyi yang aku punya. Nggak ada promosi, nggak ada pembaca tetap. Kadang aku aja lupa isi tulisan aku sendiri apa. Tapi tetap aja, tangan ini terus ngetik, seolah tubuhku pengin bilang sesuatu yang otakku belum sempat pahami. Lalu pelan-pelan, aku mulai mikir: "Apa iya tulisan ini cuma buat aku sendiri?" Aku mulai buka Kompasiana. Coba nulis yang agak lebih ‘serius’. Tapi tetap, aku nggak pernah yakin. Ngerasa belum cukup. Ngerasa terlalu biasa. Ngerasa, siapa juga yang mau baca curhatan kayak gini? Padahal di saat yang sama, aku mulai lihat banyak orang yang bisa dapat penghasilan dari nulis. Dari freelance. Dari konten. Dari script. Dan itu bikin aku mikir: “Aku bisa gak ya? Layak gak ya ...

Laki-Laki dan Ilusi Tentang ‘Dicintai’

Gambar
  Mereka ingin dicintai, disayang, dimengerti, dimaklumi, bahkan ketika kelakuannya tidak layak mendapat semua itu. Mereka mengira cinta itu hak, bukan sesuatu yang perlu diupayakan. Mereka hidup dalam ilusi bahwa cukup jadi laki-laki saja sudah pantas dicintai. Padahal, bukan cinta yang kurang. Tapi mereka yang terlalu penuh oleh dirinya sendiri, sampai lupa bagaimana caranya mencintai balik. Banyak yang bilang, cinta itu indah. Tapi entah mengapa, ketika melihat realitas yang ada, cinta justru terlihat seperti jebakan, terutama bagi perempuan. Hubungan yang seharusnya memberikan rasa nyaman dan saling dukung, justru seringkali menjadi beban yang melelahkan secara emosional. Dan sayangnya, sebagian besar beban itu datang dari satu kata: laki-laki. Laki-laki menjadi sumber dari berbagai keresahan yang diam-diam dipikul banyak perempuan. Mulai dari sikap cuek, menghilang tanpa kabar, menggantungkan perasaan, hingga trauma masa lalu yang tak pernah benar-benar selesai namun tetap dip...

💭Unspoken Thoughts (4)

Gambar
Minggu Ini Aku Gagal Lagi (Tapi Mungkin Itu Cara Semesta Menjagaku) Aku nggak tahu harus mulai dari mana, tapi minggu ini rasanya kayak perjalanan yang melelahkan sekaligus membukakan mata. Bukan perjalanan yang indah, tapi juga bukan sesuatu yang ingin aku hapus. Karena di tengah rasa malu, takut, dan ragu, aku akhirnya belajar sesuatu yang nggak pernah diajarkan di bangku kuliah: tentang menghadapi dunia kerja, dan yang lebih sulit, menghadapi diriku sendiri. Seminggu ini aku masuk ke dunia baru. Dunia yang sebelumnya cuma aku lihat dari layar laptop dan cerita orang. Dunia yang katanya harus dimasuki orang dewasa. Dunia bernama "kerja". Aku sempat merasa siap. Aku kirim lamaran ke sana sini. Aku sempat diundang interview ke perusahaan yang menurutku keren: agensi kreatif. Bahkan aku diterima. Posisinya sebagai content creator dan FYP specialist. Sebuah peran yang seharusnya membuatku bangga — karena banyak orang pengen masuk ke sana, sementara aku justru diterima. Hari per...

Melacak Akar Patriarki: Sejarah Sebuah Kuasa

Gambar
Kadang kita tumbuh besar di dunia yang udah punya aturan-aturan yang terasa “wajar”. Cewek harus lembut, cowok harus tegas. Cewek nurut, cowok mimpin. Padahal, kalau dilihat dari sejarah, semua itu bukan soal kodrat atau takdir biologis. Itu dibentuk—oleh kebudayaan, oleh sistem. Dan sistem itu bernama patriarki. Kalau ditelusuri lebih jauh, akar dari patriarki itu bukan muncul tiba-tiba. Ia muncul ketika manusia mulai menetap dan bercocok tanam. Ketika tanah bisa diwariskan, saat itulah sistem mulai peduli pada garis keturunan. Dan karena pewarisan properti harus jelas, perempuan jadi dikontrol ketat. Siapa yang menikahinya, siapa yang “menghamilinya”, itu harus dipastikan. Perlahan-lahan, tubuh perempuan bukan lagi milik dirinya sendiri, tapi jadi bagian dari struktur warisan. Ia dikurung dalam sistem yang dibuat bukan untuk melindunginya, tapi untuk menguasainya. Seiring waktu, budaya dan agama ikut memperkuat itu. Di banyak mitologi kuno, perempuan sering digambarkan sebagai sosok ...