Generasi Kita Bukan Malas, Tapi Burnout dan Bingung
Sering kali kita dianggap generasi yang manja. Dikit-dikit ngeluh, kerja dikit capek, dibilang gampang nyerah, mental tempe. Padahal yang mereka lihat cuma permukaan, cuma keluhan yang sempat terdengar, bukan seluruh beban yang diem-diem kita pikul sendirian.
Kita bukan malas. Kita cuma tumbuh di dunia yang begitu cepat berubah—dan jujur, gak semua dari kita punya kesempatan buat sekadar bernapas panjang.
Bayangin aja, sebelum lulus kuliah kita dituntut udah harus punya portofolio, pengalaman magang, IPK tinggi, organisasi, networking, dan kadang sambil kerja freelance buat bantu orang tua. Bukan karena ambisi, tapi karena kondisi yang memaksa.
Kita hidup di era yang katanya penuh peluang, tapi juga penuh tekanan. Apa-apa bisa dipelajari sendiri lewat internet, tapi itu juga bikin standar jadi makin tinggi. Semua orang jadi kelihatan keren, produktif, dan sukses di usia muda. Padahal banyak dari kita cuma bisa duduk bengong tengah malam sambil nanya: "Aku ini sebenernya lagi ngejar apa, sih?"
Kadang kita bahkan takut ngeluh.
Karena setiap kali kita cerita capek, jawabannya: “Zaman dulu lebih susah. Kamu enak tinggal nikmatin.”
Tapi mereka gak lihat bahwa kita tumbuh di dunia yang penuh perbandingan, tekanan sosial, ketidakpastian kerja, dan rasa cemas yang gak bisa dijelasin.
Kita tahu sistem ini gak selalu adil, tapi kita juga gak tahu harus mulai dari mana buat memperbaikinya.
Kita tahu dunia kerja itu keras, tapi kita juga tahu idealisme harus dijaga. Kita tahu passion penting, tapi tagihan gak bisa dibayar pakai mimpi. Kita ngerti pentingnya istirahat, tapi kita juga dihantui FOMO (fear of missing out). Kita ngerti pentingnya mencintai diri sendiri, tapi juga pengin diakui oleh orang lain.
Kita tumbuh dengan terlalu banyak ‘seharusnya’.
Seharusnya lulus tepat waktu.
Seharusnya udah punya pencapaian.
Seharusnya sukses di umur 25.
Seharusnya kuat, tegar, gak baperan.
Tapi kenyataannya, kita bingung.
Bukan karena kita bodoh atau gak mampu. Tapi karena kita terlalu sadar. Kita sadar bahwa dunia ini penuh ketimpangan. Kita sadar bahwa hidup bukan cuma tentang kerja keras. Kita sadar bahwa gak semua orang bisa bertarung di medan yang sama.
Dan itu bikin kita mikir terus.
Mikirin arah hidup, mikirin masa depan, mikirin orang tua, mikirin ekspektasi, mikirin kenapa kita kayaknya gak pernah cukup. Sampai akhirnya kita capek. Secapek-capeknya.
Kalau kamu lagi ngerasa kayak gitu juga—ngerasa kosong padahal sibuk, ngerasa sendiri padahal rame—percaya deh, kamu gak sendiri. Banyak dari kita yang juga lagi nyari pijakan di tengah kebisingan ini.
Gak apa-apa kalau kamu belum tahu mau ke mana.
Gak apa-apa kalau sekarang kamu cuma bisa jalan pelan.
Gak apa-apa kalau satu-satunya pencapaianmu hari ini adalah bertahan.
Karena kamu bukan malas.
Kamu cuma manusia.
Dan menjadi manusia itu melelahkan… tapi juga berharga.
Kita generasi yang tumbuh sambil belajar mencintai diri sendiri, walau dunia sering gak berpihak. Kita generasi yang sadar, kritis, dan terus berusaha—meski kadang jalannya kabur.
Pelan-pelan, ya.
Hidup ini bukan lomba.
Kalau kamu lagi merasa hilang, mungkin itu bukan tanda kamu gagal. Mungkin itu tanda bahwa kamu sedang menemukan ulang arahmu—dengan cara kamu sendiri.
Dan itu sah-sah aja.
"Kita tumbuh di era serba cepat, tapi luka jiwa tetap butuh waktu pulih"

Komentar
Posting Komentar