💭Unspoken Thoughts (4)

Minggu Ini Aku Gagal Lagi (Tapi Mungkin Itu Cara Semesta Menjagaku)

Aku nggak tahu harus mulai dari mana, tapi minggu ini rasanya kayak perjalanan yang melelahkan sekaligus membukakan mata. Bukan perjalanan yang indah, tapi juga bukan sesuatu yang ingin aku hapus. Karena di tengah rasa malu, takut, dan ragu, aku akhirnya belajar sesuatu yang nggak pernah diajarkan di bangku kuliah: tentang menghadapi dunia kerja, dan yang lebih sulit, menghadapi diriku sendiri.

Seminggu ini aku masuk ke dunia baru. Dunia yang sebelumnya cuma aku lihat dari layar laptop dan cerita orang. Dunia yang katanya harus dimasuki orang dewasa. Dunia bernama "kerja". Aku sempat merasa siap. Aku kirim lamaran ke sana sini. Aku sempat diundang interview ke perusahaan yang menurutku keren: agensi kreatif. Bahkan aku diterima. Posisinya sebagai content creator dan FYP specialist. Sebuah peran yang seharusnya membuatku bangga — karena banyak orang pengen masuk ke sana, sementara aku justru diterima.

Hari pertama datang ke kantornya, suasananya cukup menyenangkan. Tidak seformal yang aku bayangkan. Orang-orangnya muda, ramah, dan terbuka. Tapi entah kenapa, aku merasa kosong. Ada perasaan yang nggak bisa aku jelaskan. Rasanya seperti datang ke sebuah pesta ulang tahun yang ramai, tapi aku nggak tahu siapa yang sedang ulang tahun. Aku cuma ikut berdiri, tersenyum, padahal pikiranku kabur ke mana-mana. Aku mulai sadar kalau aku sedang berjuang sendirian di dalam pikiranku. Bukan karena mereka jahat, bukan. Tapi karena aku yang merasa nggak mampu menyesuaikan diri.

Aku takut dibilang nggak bisa kerja. Takut dibilang cuma cari-cari pengalaman buat gaya-gayaan. Tapi yang paling berat adalah rasa takut mengecewakan orang yang sudah percaya padaku. Aku takut aku nggak bisa kasih kontribusi yang layak. Dan yang paling membuatku gelisah adalah... aku sadar, aku nggak nyaman di sana. Padahal ini baru hari pertama.

Lalu aku mengundurkan diri. Dengan sopan, dengan hati-hati, dan tentu saja dengan rasa malu. Karena aku tahu, di luar sana orang berlomba-lomba dapat kerja. Tapi aku? Baru mulai, sudah menyerah. Tapi apakah ini menyerah? Atau justru keberanian untuk jujur?

Di sisi lain, aku juga sempat mencoba pekerjaan sebagai host live TikTok. Sebuah pengalaman yang membuatku sadar bahwa tampil di depan kamera bukan tempatku. Aku datang ke rumah tempat live itu dengan rasa ingin tahu, tapi akhirnya pulang dengan rasa malu. Aku bilang ke ownernya kalau aku malu. Dan itu kenyataannya. Aku nggak bisa bohong, aku benar-benar malu. Aku nggak sanggup berbicara saat live. Bukan karena aku nggak niat, tapi karena aku benar-benar belum siap. Dan si Teh Salsa, ownernya, justru bersikap sangat baik. Dia tetap sabar, tetap menyemangati, tapi aku sendiri masih bergulat dengan perasaan gagal dan takut terlihat lucu.

Setelah dua pengalaman itu, aku mulai mempertanyakan: apakah aku terlalu lemah? Apakah aku terlalu selektif? Atau apakah memang dunia kerja terlalu cepat untukku?

Di rumah, aku jadi diam saja. Aku tahu mata mama melihatku dengan heran. Aku duduk lama di kursi, buka laptop, buka Canva, buka email, tapi nggak ngapa-ngapain. Di matanya, aku malas. Tapi di pikiranku, aku sedang perang. Aku sedang berusaha nggak nyerah. Aku sedang mikir keras: kerja apa yang sebenarnya cocok buatku?

Aku takut dinilai “gak jelas”. Takut dianggap “cuma ikut-ikutan” ngelamar kerja. Takut ditandai HRD. Tapi aku juga sadar, lebih baik aku berhenti di awal daripada bertahan di tempat yang bikin aku merasa kecil. Aku juga manusia. Aku pengen kerja. Aku pengen banggain orang tua. Aku pengen punya uang sendiri. Tapi aku juga pengen kerja di tempat yang bikin aku bisa bernapas.

Aku sadar, aku bukan orang yang kuat bicara. Aku lebih nyaman kerja di balik layar. Mungkin itu sebabnya aku suka nulis, suka desain, suka ngulik Canva, suka ngatur konten. Tapi bukan berarti aku nggak bisa berkembang. Aku bisa, asal dikasih arahan. Aku butuh struktur. Aku butuh sistem kerja yang jelas. Aku butuh tempat yang sabar dan nggak memburu waktu.

Minggu ini, aku gagal. Tapi dari kegagalan ini, aku jadi lebih kenal siapa diriku. Aku jadi tahu batasku. Aku jadi tahu apa yang bikin aku nggak nyaman, dan apa yang bikin aku merasa dihargai. Aku jadi sadar bahwa dunia kerja bukan soal keren-kerenan posisi, tapi tentang keberanian buat jujur: apakah kamu nyaman di situ?

Mungkin aku akan istirahat dulu. Mungkin aku akan apply lagi. Mungkin aku akan bangun blog ini lebih serius. Mungkin aku akan kejar CPNS kayak dulu aku bayangin. Aku nggak tahu pasti. Tapi satu hal yang pasti: aku nggak malas. Aku cuma lagi nyari tempat di dunia yang luas ini. Dan untuk sekarang, itu sudah cukup.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Suara Pertama: Menulis untuk Mendengar Diri Sendiri

💭Unspoken Thoughts

Generasi Kita Bukan Malas, Tapi Burnout dan Bingung