#1Sejarah Ditulis oleh Pemenang, Lalu Kemana Suara yang Kalah?
Kita sering dibilang, sejarah itu pelajaran tentang masa lalu. Tapi seiring waktu, aku sadar: sejarah juga soal kuasa. Bukan cuma soal siapa yang melakukan apa, tapi siapa yang diizinkan bicara tentangnya. Dan lebih sering lagi: siapa yang dibungkam.
Sebagai anak sejarah, aku belajar kronologi. Tanggal. Fakta. Tapi kadang aku berhenti di satu titik, terus mikir, “Apa iya cuma ini ceritanya?” Kenapa sejarah itu terlihat rapi banget, padahal hidup manusia dulu (dan sekarang) nggak pernah sesederhana paragraf buku teks?
Kita sering baca bahwa Belanda datang "membawa peradaban". Tapi kenapa suara mereka yang dijajah malah jarang disorot, kalaupun ada seringnya dalam posisi pasif atau kalah?
Kita disuruh menghafal tanggal kemerdekaan, tapi lupa kalau banyak tokoh kecil di desa-desa yang ikut berjuang tanpa pernah masuk buku pelajaran. Dan yang paling menyentuh buatku: kenapa sejarah 1965 lebih sering dibahas dari sudut penguasa? Kenapa kita nggak pernah benar-benar mendengar cerita dari mereka yang dianggap "kiri"?
Sejarah memang bukan fiksi. Tapi sejarah bukan cuma kumpulan fakta, karena fakta pun bisa dipilih. Dan siapa yang memilih, itulah pemegang kuasa. Kita tahu siapa yang menang, karena mereka bisa menulis. Tapi kita nggak tahu banyak tentang yang kalah, karena tulisan mereka dibakar, dimusnahkan, atau sekadar diabaikan.
Sebagai generasi sekarang, kadang aku mikir, mungkin tugas kita bukan cuma membaca sejarah—tapi juga mencari yang hilang dari sejarah. Mungkin kita nggak akan bisa nemuin semuanya. Tapi menulis ini aja, bagi aku, udah jadi bentuk kecil dari melawan lupa.
Sejarah adalah cermin. Tapi kalau cuma satu sisi yang terlihat, sisanya hanya bayangan. Dan bayangan, tak akan jadi terang kalau tak ada yang menyalakan cahaya.
Dulu waktu masih awal-awal kuliah, aku kira belajar sejarah itu bakal kaya nonton film perang, hafal-hafalan nama tokoh, atau diskusi tentang siapa yang paling berjasa. Tapi ternyata makin ke sini, aku jadi sadar: sejarah nggak segitu netralnya.
Ada momen aku ngerasa ragu. Kayak, "Emang semua yang aku baca itu benar ya?" Karena sering banget, suara-suara yang nggak sesuai narasi besar itu malah pelan—atau bahkan sengaja dipelanin. Contohnya pas kita bahas tahun 1965. Kita dikenalin siapa yang benar dan salah, tapi... siapa yang nentuin kebenaran itu? Kok kayaknya terlalu hitam-putih.
Aku juga jadi makin sadar, bahwa kadang sejarah bukan cuma soal peristiwa, tapi juga soal siapa yang punya akses ke pena, ke mikrofon, ke media.
Tokoh-tokoh yang masuk buku teks bisa aja bukan yang paling berjuang, tapi yang ceritanya paling sesuai sama narasi negara. Tokoh yang lebih vokal, lebih radikal, atau nggak tunduk—seringnya justru dihapus atau digeser dari panggung utama.
Aku jadi mikir: bisa jadi banyak perempuan pejuang, tokoh minoritas, rakyat biasa yang ngelakuin hal luar biasa… tapi sejarah lupa menuliskannya. Atau sengaja memilih untuk nggak nulis.
Kita sebagai generasi yang katanya "melek informasi" dan suka mikir kritis—mungkin tugas kita bukan cuma baca ulang sejarah. Tapi juga nanya:
“Kok yang ini nggak pernah masuk buku?”
“Kenapa cuma tokoh ini yang disorot?”
“Siapa yang nggak sempat bersuara?”
Karena kalau kita terus-terusan nerima sejarah versi “resmi” tanpa nanya apa yang nggak ditulis, kita juga ikut melanggengkan kebisuan itu.
Jadi sekarang, buatku, belajar sejarah itu bukan lagi soal menghafal. Tapi tentang mempertanyakan. Mencari celah. Mencoba meraba-raba cerita yang hilang. Dan menulis ini—meskipun kecil, meskipun cuma di blog ini—adalah caraku buat ikut nyalain lilin kecil di lorong gelap yang dulu ditutup rapat.
Karena sejarah yang utuh itu bukan soal siapa yang menang. Tapi siapa yang akhirnya didengar, walau sempat dibungkam.

Komentar
Posting Komentar