#2Ketika yang Merah Dihapus, Sejarah Jadi Sepihak


Aku gak pernah diajarin banyak soal “kiri” waktu sekolah dulu. Yang aku tahu cuma satu kata yang terus diulang: bahaya. Seakan-akan semuanya berbahaya kalau ada embel-embel kiri. Entah itu ide, buku, organisasi, bahkan nama orang.

Tapi anehnya, semakin aku belajar sejarah, semakin aku sadar bahwa yang disebut “kiri” itu dulu bukan sekadar label. Itu adalah gerakan, pemikiran, dan orang-orang nyata yang punya pengaruh besar terhadap sejarah Indonesia.

Dan pertanyaannya sekarang:

Kalau mereka punya pengaruh, kenapa jejaknya malah dihapus?

Di tahun-tahun awal kemerdekaan, “kiri” bukan hal yang haram. Justru banyak tokoh penting Indonesia yang terlibat aktif dalam gerakan kiri—baik dalam bentuk partai, serikat buruh, organisasi tani, atau sekadar dalam ideologi.

Pemikiran-pemikiran kiri itu sering kali lahir dari ketimpangan sosial.

Dari kemiskinan yang membatu.

Dari rakyat yang terus bekerja tapi gak pernah punya kuasa.

Gerakan kiri datang dengan gagasan tentang keadilan, pemerataan, dan keberpihakan pada rakyat kecil. Tapi sejarah seolah-olah melupakan sisi itu. Yang ditinggalkan hanya cap buruk: pemberontak, pengacau, pengkhianat.

Satu hal yang aneh adalah, kita bisa mengagumi Bung Karno—pemimpin besar revolusi, orator ulung, tokoh dunia—tapi kita gak pernah diajak untuk memahami bahwa banyak dari ide-ide Bung Karno lahir dari pengaruh pemikiran kiri. Tentang anti-kolonialisme, anti-kapitalisme, tentang perjuangan kelas, tentang pentingnya membela kaum marjinal. Tapi anehnya, ketika orang lain menyuarakan hal yang sama, mereka langsung dicap bahaya. Padahal, di masa awal kemerdekaan, ide-ide kiri bukan cuma eksis, tapi justru menjadi bagian dari darah perjuangan bangsa.

Ada Lekra, lembaga kebudayaan rakyat, yang membuat sastra dan seni gak lagi netral, tapi berpihak. Ada para guru dan buruh yang ikut dalam gerakan serikat. Ada petani yang bersuara soal tanah. Mereka bukan kriminal. Mereka cuma ingin hidup lebih layak, lebih adil. Tapi sejarah kemudian membungkam mereka, dan hanya meninggalkan cerita versinya sendiri.

Tahun 1965 bukan cuma tragedi politik, tapi juga tragedi ingatan. Ratusan ribu orang dibunuh, ditangkap, diasingkan. Dan yang tersisa adalah ketakutan. Bahkan sampai hari ini. Padahal banyak dari mereka yang jadi korban gak tahu apa-apa. Ada yang cuma pernah ikut organisasi, ada yang cuma pernah baca buku, atau sekadar anak dari orang yang pernah aktif di partai kiri. Lalu hidup mereka berubah selamanya. Mereka bukan cuma dihapus dari sejarah, tapi juga dari masyarakat. Dicap, dijauhi, disalahpahami.

Yang lebih sedih, setelah mereka dilenyapkan, cerita mereka pun ikut lenyap. Kita gak dikasih kesempatan untuk bertanya: kenapa mereka memperjuangkan itu? Apa yang mereka lihat? Apa yang mereka alami? Kita cuma diwarisi rasa takut dan narasi tunggal yang mengatur apa yang boleh diketahui dan apa yang harus dilupakan.

Yang muncul hanya satu versi:

Bahwa kiri itu jahat. Titik.

Mungkin ini sebabnya kenapa belajar sejarah terasa kaku dan datar. Karena terlalu banyak yang dihilangkan. Karena kita gak pernah diajak untuk memahami yang berbeda. Seolah-olah sejarah itu hanya punya satu versi, satu warna, satu suara. Dan semua yang di luar itu dianggap ancaman.

Tapi sekarang, aku gak mau cuma duduk diam dan nurut. Aku pengen tahu. Aku pengen baca. Aku pengen paham. Bukan karena aku punya agenda, tapi karena aku percaya: sejarah harusnya ngasih kita ruang untuk berpikir, bukan mengekang. Harusnya ngajarin kita kritis, bukan patuh buta.

Kita gak pernah dikasih ruang buat mengenal.

Kita cuma dikasih cap, tanpa dikasih konteks.

Sejarah harusnya ngajarin kita buat berpikir. Bukan menakut-nakuti kita buat bertanya.

Dan buatku, mengenal sejarah kiri bukan berarti aku ikut jadi kiri. Tapi itu bentuk tanggung jawab:

Kalau mau ngerti sejarah bangsa ini, ya harus lihat semua sisinya. Termasuk sisi yang disembunyikan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Suara Pertama: Menulis untuk Mendengar Diri Sendiri

💭Unspoken Thoughts

Generasi Kita Bukan Malas, Tapi Burnout dan Bingung