Suara Pertama: Menulis untuk Mendengar Diri Sendiri


Aku nggak tahu siapa yang akan baca tulisan ini. Atau mungkin nggak akan ada yang baca sama sekali. Tapi nggak apa-apa — karena dari awal, ruang ini memang bukan untuk ramai-ramai, tapi buat diriku sendiri.

Kadang kita cuma butuh satu tempat kecil buat dengerin diri sendiri. Tempat yang gak minta likes, gak minta validasi. Tempat di mana suara-suara dalam kepala bisa ditulis pelan-pelan, sebelum mereka lenyap tanpa jejak.

Aku selalu merasa lebih mudah bicara lewat tulisan. Ada hal-hal yang susah dijelaskan langsung, tapi bisa mengalir saat dituangkan jadi kata.

Blog ini lahir dari kebiasaan kecil itu — menulis, bukan karena ingin didengar, tapi karena ingin memahami. Kadang tentang isi kepala yang sesak, kadang tentang hal-hal remeh yang entah kenapa terasa penting.

Aku namakan blog ini Swaralikhita — suara yang ditulis. Karena ada banyak hal yang gak sempat diucap, tapi bisa tetap hidup lewat kata. Karena aku percaya, tulisan bisa jadi ruang paling jujur untuk diri sendiri.

Nanti mungkin aku bakal nulis apa aja. Tentang sosial, psikologi, atau sejarah. Mungkin juga sekadar catatan dari malam-malam panjang yang penuh pikiran atau hal-hal yang kadang terlalu sepele buat dibahas di tempat lain. Mungkin random, mungkin jarang update. Tapi kalau aku bisa kembali ke sini lagi, itu artinya aku masih bertahan.


Jadi ini dia, suara pertamaku.

Semoga nggak jadi yang terakhir🌷⚘.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

💭Unspoken Thoughts

Generasi Kita Bukan Malas, Tapi Burnout dan Bingung