ðŸ’Unspoken Thoughts
Maybe that’s why aku belum pernah benar-benar dekat sama seseorang, especially romantically. Di depan cowok, aku selalu ngerasa awkward. It’s like I’m nobody, like I’m always missing something—less this, less that. Kadang aku mikir, “Who would even be interested in me?” And that thought quietly sticks in my head.
But as I grow, aku mulai sadar: itu bukan karena aku gak layak. Aku lagi ada di fase yang confusing banget—fase buat nyari tahu siapa aku sebenernya. Quarter-life crisis, they say. But for me, it’s more than a crisis. It’s a silent journey full of questions.
Aku sedang belajar berdamai dengan diriku yang imperfect. Aku belajar jadi diri sendiri, walau pendiam, kaku, atau susah buka diri. Itu bukan rusak, itu cuma cara aku tumbuh. Aku belajar menerima kalau aku gak harus selalu terlihat “fun” supaya layak dicintai.
I’m starting to believe that true love doesn’t come from funny talks or good looks, but from the courage to be yourself. Aku lagi pelan-pelan ngerawat keberanian itu.
And if I feel awkward in real life, aku punya words. My writing. This blog. Tempat aku bisa speak up tanpa takut canggung. Tempat aku belajar untuk love myself—dengan segala kekurangan, doubts, and my silences.
If you’ve ever felt like me, you’re not alone. Dunia ini bukan cuma buat orang yang bisa ngomong lancar dan gampang disukai. Dunia ini juga buat kita yang lagi belajar berdamai sama diri sendiri. And even if the road is slow, I believe this is the right journey.
Aku mungkin belum tau pasti siapa aku, belum tau mau jadi apa. But I know one thing: aku masih bertahan. And for now, that’s enough.

Komentar
Posting Komentar