Laki-Laki dan Ilusi Tentang ‘Dicintai’

 

Mereka ingin dicintai, disayang, dimengerti, dimaklumi, bahkan ketika kelakuannya tidak layak mendapat semua itu.
Mereka mengira cinta itu hak, bukan sesuatu yang perlu diupayakan.
Mereka hidup dalam ilusi bahwa cukup jadi laki-laki saja sudah pantas dicintai.

Padahal, bukan cinta yang kurang.
Tapi mereka yang terlalu penuh oleh dirinya sendiri, sampai lupa bagaimana caranya mencintai balik.

Banyak yang bilang, cinta itu indah. Tapi entah mengapa, ketika melihat realitas yang ada, cinta justru terlihat seperti jebakan, terutama bagi perempuan. Hubungan yang seharusnya memberikan rasa nyaman dan saling dukung, justru seringkali menjadi beban yang melelahkan secara emosional. Dan sayangnya, sebagian besar beban itu datang dari satu kata: laki-laki.

Laki-laki menjadi sumber dari berbagai keresahan yang diam-diam dipikul banyak perempuan. Mulai dari sikap cuek, menghilang tanpa kabar, menggantungkan perasaan, hingga trauma masa lalu yang tak pernah benar-benar selesai namun tetap dipaksakan untuk dibawa ke hubungan baru. Dan ketika perempuan mulai mempertanyakan semua itu, laki-laki malah merasa disudutkan.

Padahal, faktanya, banyak perempuan merasa hubungan mereka hanya satu arah. Perempuan memberi segalanya—perhatian, waktu, tenaga, bahkan pengertian yang tidak masuk akal. Sementara laki-laki hanya memberi kebingungan.

Dan lebih parahnya, ketika perempuan akhirnya mempertanyakan,
"Aku kurang apa?"
Itu bukan karena dia bodoh, tapi karena dia sudah terlalu lelah mencari celah untuk tetap layak dicintai. Tapi sialnya, justru pertanyaan itu yang membuat laki-laki merasa dirinya penting.
Padahal tidak. Sama sekali tidak.

Laki-laki yang seperti ini tidak layak dimuliakan. Tidak layak dipertahankan. Dan tidak seharusnya merasa dunia ini berpusat pada mereka.

Perasaan benci ini tidak muncul tiba-tiba. Bukan tanpa sebab. 

Melihat perempuan yang diselingkuhi setelah empat tahun menjalin hubungan. Mendengar laki-laki yang dengan bangga menyombongkan selera dan merasa dunia harus menyesuaikan diri dengannya. Melihat laki-laki yang merasa pantas memegang kendali atas harga diri perempuan, padahal ia tidak pernah benar-benar tahu cara mencintai dengan sehat.

Dan jangan lupakan mereka yang bangga melontarkan ejekan fisik, tertawa atas penderitaan orang lain, dan menyebar komentar merendahkan di balik layar.
Laki-laki patriarkis seperti ini adalah sampah.
Mental patriarki membuat mereka merasa unggul hanya karena lahir dengan jenis kelamin tertentu. Seakan-akan dunia diciptakan untuk menyembah mereka.
Padahal kenyataannya: mereka hanya membawa luka.

Sudah terlalu sering perempuan dipaksa menjadi pihak yang mengerti, memaafkan, dan menunggu. Sudah terlalu banyak luka yang dibungkam, hanya agar hubungan terlihat baik-baik saja.

Dan jika kenyataan pahit ini harus dituliskan, maka biarlah begini:
Laki-laki itu beban. Titik.
Beban pikiran, beban perasaan, beban emosional, beban yang tidak diminta tapi dipaksakan untuk dipikul.
Sampai kapan pun, selama mereka tidak mau berubah, tidak ada alasan untuk memberi mereka tempat.

Catatan Kecil untuk Perempuan:

Berhenti merasa kurang.
Berhenti mempertanyakan diri sendiri.
Berhenti meyakinkan laki-laki yang bahkan tidak layak diyakini.

Harga dirimu tidak tergantung pada bagaimana mereka memperlakukanmu.
Dan luka dari laki-laki tidak seharusnya kamu jadikan ukuran nilai dirimu sendiri.

Jika tulisan ini menyakitkan, bagus. Karena kenyataan memang tidak selalu harus nyaman.
Jika tulisan ini menyindir, berarti kamu salah satu penyebabnya
.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Suara Pertama: Menulis untuk Mendengar Diri Sendiri

💭Unspoken Thoughts

Generasi Kita Bukan Malas, Tapi Burnout dan Bingung