#4Srikandi Yang Menjadi Monster Rekayasa

Sejarah sering kali ditulis dari kacamata pemenang, dan itu terasa banget kalau kita ngomongin soal tragedi 1965 dan organisasi Gerwani. Selama ini, banyak generasi termasuk kita tumbuh dengan narasi tunggal yang dipaksakan tentang siapa yang “benar” dan siapa yang “salah.” Nama Gerwani, misalnya, hampir selalu dikaitkan dengan stigma kejam, jahat, dan tak bermoral. Kita diajarkan bahwa mereka adalah bagian dari PKI yang brutal, seolah satu-satunya identitas mereka hanyalah "perempuan pendukung komunis" yang dikisahkan melakukan kekerasan tak manusiawi di Lubang Buaya.

Source: CNN Indonesia

Tapi ketika menggali dokumen, arsip, dan penelitian yang lebih independen, ceritanya jadi jauh lebih kompleks. Banyak sejarawan dan peneliti kemudian menemukan bahwa narasi tentang Gerwani itu sebagian besar hasil konstruksi Orde Baru. Misalnya, cerita soal anggota Gerwani yang “menyilet alat vital para jenderal” di Lubang Buaya, ternyata tidak pernah terbukti. Hasil otopsi resmi dari tim dokter militer sendiri bahkan menyatakan bahwa tidak ada tanda-tanda mutilasi seksual di tubuh para jenderal. Artinya, selama puluhan tahun kita dicekoki propaganda yang sengaja dibangun untuk menanamkan rasa benci, untuk menjustifikasi pembersihan PKI dan siapa pun yang dianggap dekat dengannya.

Gerwani sendiri awalnya bukan organisasi yang didirikan untuk kekerasan. Mereka lahir sebagai organisasi perempuan yang bergerak di isu-isu sosial, pendidikan, dan kesetaraan. Banyak dari mereka adalah perempuan biasa: guru, petani, ibu rumah tangga, aktivis literasi. Mereka bicara soal hak upah yang layak, pendidikan untuk anak-anak, dan pemberdayaan perempuan di desa-desa. Tapi setelah tragedi 30 September 1965, semua itu hilang ditelan narasi tunggal yang dibentuk penguasa. Identitas mereka sebagai perempuan yang peduli soal rakyat kecil dan pendidikan lenyap, digantikan oleh stigma “perempuan tak bermoral.”

Yang bikin ironis, banyak anggota Gerwani yang sama sekali nggak tahu-menahu soal G30S atau rencana politik di level atas. Mereka ditangkap, diinterogasi, bahkan disiksa, hanya karena dianggap “terafiliasi” atau pernah ikut kegiatan organisasi itu. Ada kisah-kisah tentang perempuan muda Gerwani yang baru 17 atau 18 tahun, diarak, diperkosa, lalu dibunuh tanpa proses peradilan. Dan yang bikin lebih getir, generasi setelahnya kita, anak-anak sekolah tumbuh dengan menonton film propaganda yang memvisualisasikan mereka sebagai “biang keladi kekejaman.” Kita diajarin benci, tanpa pernah diminta untuk mempertanyakan kebenaran ceritanya.

Di titik ini, aku jadi mikir: betapa banyaknya sejarah Indonesia yang sebenarnya nggak selesai diceritakan. Banyak bagian yang sengaja dipotong, dimanipulasi, atau direduksi biar sesuai dengan kepentingan rezim yang sedang berkuasa. Gerwani jadi korban framing. Begitu pula dengan mereka yang “dianggap komunis.” Kita jarang dikasih ruang untuk melihat sisi manusianya bagaimana mereka punya keluarga, mimpi, dan cita-cita. Semua lenyap dihapus satu generasi, bahkan namanya pun jadi tabu dibicarakan.
Sejak SD sampai kuliah, kita dijejali narasi tunggal bahwa Gerwani organisasi perempuan yang lahir dari semangat kesetaraan dan perlawanan terhadap penindasan digambarkan seolah-olah biadab, tak bermoral, bahkan jadi kambing hitam atas segala kekacauan politik kala itu. Buku sejarah dan propaganda visual macam film Pengkhianatan G30S/PKI memaksa kita percaya bahwa anggota Gerwani menari-nari di Lubang Buaya, mencongkel mata para jenderal, dan menodai tubuh mereka. Seolah-olah perempuan-perempuan ini bukan manusia, melainkan iblis yang lahir untuk menghancurkan moral bangsa.

Tapi makin digali, makin terasa aneh. Banyak sejarawan independen, arsip luar negeri, dan penelitian kontemporer membongkar bahwa cerita itu kebanyakan rekayasa. Gerwani bukan organisasi "liar" yang obsesinya pada seks dan kekerasan, melainkan gerakan perempuan terbesar di Asia Tenggara kala itu. Mereka berjuang untuk upah layak, hak buruh perempuan, akses pendidikan, kesehatan, dan kesetaraan sosial. Tapi karena mereka dekat dengan PKI, semua kiprah mereka dihapus begitu saja, diganti dengan narasi kebuasan yang sengaja dibuat untuk memancing kebencian publik.

Dan hasilnya berhasil. Jutaan nyawa melayang, bukan cuma anggota PKI, tapi juga simpatisan, orang-orang yang dianggap dekat, bahkan rakyat biasa yang sebenarnya gak tahu apa-apa. Gerwani diburu, ditangkap, diperkosa, dibunuh, dan kalaupun selamat, nama mereka dicap kotor selamanya. Tubuh dan martabat mereka dihancurkan, lalu sejarah pun merampas suara mereka.

Dan ini bukan sekadar soal masa lalu. Dampaknya masih kerasa sampai sekarang. Keluarga-keluarga korban 1965 hidup dengan stigma turun-temurun. Anak-anak mereka dijauhi, sulit dapat pekerjaan, bahkan sampai hari ini banyak yang masih enggan mengungkit trauma keluarganya. Yang lebih nyesek lagi, sebagian besar masyarakat nggak sadar kalau kebencian itu sebenarnya diwariskan melalui propaganda negara. Kita nggak pernah diminta berpikir kritis; kita cuma diminta menerima cerita versi tunggal.

Kalau dipikir-pikir, ini bagian dari masalah yang lebih besar soal bagaimana negara menulis sejarahnya sendiri. Ada bagian yang dibesarkan, ada yang dihapus. Gerwani dan orang-orang yang dianggap “kiri” dibungkam bukan cuma fisiknya, tapi juga narasinya. Rasanya kayak satu generasi dipaksa hilang dari ingatan kolektif. Padahal, ngerti konteks dan keberagaman cerita sejarah itu penting supaya kita bisa belajar dengan jujur, bukan sekadar menelan doktrin.

Mungkin sekarang waktunya kita berhenti melihat sejarah hanya dari satu kacamata. Bukan berarti harus memihak PKI atau Gerwani, tapi lebih ke membuka ruang untuk melihat sisi manusiawi dari mereka yang selama ini disalahpahami. Mereka juga korban. Dan kalau kita terus menolak membicarakan sisi ini, kita ikut melestarikan ketidakadilan sejarah.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Suara Pertama: Menulis untuk Mendengar Diri Sendiri

💭Unspoken Thoughts

Generasi Kita Bukan Malas, Tapi Burnout dan Bingung