Kiri-Kanan dan Realita yang Tidak Pernah Sempurna

Kadang aku mikir, kalau dunia ini beneran jalan sesuai teori, mungkin hidup bakal lebih gampang. Aku selalu ngerasa lebih deket sama prinsip kiri. Rasanya adil banget kalau semua orang setara, gak ada jurang kaya-miskin, gak ada buruh yang ditindas sama pemilik modal. Ide tentang alat produksi dimiliki bareng-bareng dan hasilnya dibagi sesuai kebutuhan kedengarannya kayak mimpi indah.


Source: Dennis Adhiswara on X

Tapi masalahnya, dunia gak pernah sesederhana itu.

Lihat aja sejarah. Uni Soviet di bawah Lenin dan Stalin awalnya pengen bikin masyarakat tanpa kelas. Semua tanah, pabrik, dan sumber daya diambil alih negara, katanya demi pemerataan. Tapi kenyataannya, negara jadi pegang kekuasaan mutlak. Siapa yang deket sama partai punya akses lebih besar: makanan, rumah, pakaian, bahkan mobil. Sementara rakyat kecil sering cuma bisa pasrah. Stalin malah bikin kontrol lebih ketat, dan tragedi kayak Holodomor di Ukraina jadi bukti kalau realita jauh banget dari cita-cita.

Tiongkok di bawah Mao Zedong pun sama. Dengan semangat revolusi, Mao jalankan program Lompatan Jauh ke Depan dan Revolusi Kebudayaan buat ngehapus kesenjangan sosial. Teorinya terdengar keren, tapi hasilnya? Rakyat banyak yang kelaparan, sementara elit partai punya akses fasilitas dan pendidikan terbaik. Mao sendiri hidup sederhana, tapi orang-orang di sekitarnya gak selalu sama.

Dari situ aku sadar, masalahnya bukan cuma di sistemnya, tapi di manusianya. Idealisme kiri ngajarin kalau semua orang sama rata, tapi kenyataannya, selalu ada kelompok kecil yang punya privilege lebih karena dekat sama kekuasaan. Kapitalisme juga punya masalah yang sama, cuma bedanya terang-terangan. Di kapitalisme, orang kaya bebas beli sepuluh mobil cuma buat dipajang di garasi. Sementara di komunisme, mobilnya mungkin tetap ada, tapi dipake diam-diam sama elit partai. Bedanya cuma satu: kelihatan atau enggak.

Terus gimana dengan kapitalisme sendiri? Banyak orang ngerasa sistem ini lebih realistis. Pasar bebas bikin inovasi jalan, kompetisi bikin orang termotivasi. Tapi jurang kaya-miskin makin lebar, dan budaya pamer status tumbuh subur. Kesuksesan diukur dari seberapa banyak mobil, rumah, atau tas branded yang kamu punya. Orang yang udah kaya makin gampang kaya, sementara yang miskin makin susah naik kelas.

Dari sini aku ngerti satu hal: gak ada sistem yang benar-benar sempurna. Dunia sekarang juga nyatanya jarang ada negara yang murni kiri atau murni kanan. Lihat Tiongkok, di atas kertas mereka komunis, tapi praktiknya super kapitalis. Amerika Serikat liberal, tapi tetap punya subsidi dan bantuan sosial. Negara-negara Eropa Barat malah pakai sistem campuran: pasar bebas jalan, tapi negara hadir buat memastikan rakyatnya gak kesenjangan terlalu jauh. Pajak orang kaya tinggi, tapi sebagai gantinya sekolah, kesehatan, dan fasilitas publik bisa diakses semua orang.

Kalau dipikir-pikir, mungkin itu yang paling masuk akal: pasar tetap hidup biar inovasi jalan, tapi negara juga ada buat ngejaga keseimbangan. Karena tanpa pengawasan, kapitalisme bikin kesenjangan makin lebar, sementara tanpa kebebasan pasar, komunisme gampang melahirkan elit baru yang nyolong fasilitas di balik layar.

Jadi, ya… aku masih setuju sama semangat kiri. Tapi aku juga sadar, realitanya manusia itu rakus. Entah sistemnya kiri atau kanan, pasti bakal ada orang yang pengen punya lebih, pengen status lebih tinggi, pengen beda dari yang lain. Dan kayaknya di situlah sumber masalahnya. Kadang bukan soal kapitalisme atau komunisme, tapi soal manusia yang gak pernah puas.

Mungkin itu sebabnya tiap kali lihat pejabat numpuk mobil padahal jarang dipake, aku cuma bisa ketawa miris. Mau kiri, mau kanan, ujung-ujungnya tetap ada orang yang punya akses lebih. Dunia memang gak pernah benar-benar adil… dan mungkin memang gak akan pernah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Suara Pertama: Menulis untuk Mendengar Diri Sendiri

💭Unspoken Thoughts

Generasi Kita Bukan Malas, Tapi Burnout dan Bingung