Nasionalisme Yang Retak

Setiap tanggal 30 September datang, suasananya selalu sama: postingan tentang G30S memenuhi timeline, himbauan untuk mengenang jasa tujuh jenderal, dan peringatan tentang “bahaya laten PKI” yang entah kenapa masih digembar-gemborkan. Dulu, waktu masih kecil, aku ikut larut. Nonton film “Pengkhianatan G30S/PKI” di sekolah, deg-degan, ngerasa takut, dan akhirnya percaya bulat-bulat sama satu cerita PKI dalang segalanya, para jenderal itu pahlawan, dan Soeharto penyelamat bangsa.

Source: Aktual.com

Tapi sekarang, setelah belajar sejarah lebih dalam, semuanya terasa… berbeda. Semua yang dulu kelihatan jelas, ternyata buram. Semua yang dulu terasa pasti, ternyata penuh tanda tanya. Ternyata sejarah yang diajarin ke kita itu nggak sesederhana hitam dan putih. Ada konflik elite, perebutan kekuasaan di tubuh militer sendiri, kepentingan asing yang ikut main, dan… korban sipil yang jumlahnya ratusan ribu orang, tapi namanya nggak pernah disebut dalam buku pelajaran. Selama 32 tahun Orde Baru muter narasi tunggal tanpa ruang buat kita mempertanyakan apa pun. Dan sekarang, ketika tahu kenyataannya, rasanya wajar banget kalau aku nggak mau larut dalam “bela sungkawa” untuk versi sejarah yang bahkan nggak lengkap.

Kadang aku ngerasa, kalau mau benar-benar menghormati korban, kenapa cuma tujuh jenderal yang ditonjolkan? Kenapa nggak sekaligus mengakui ratusan ribu rakyat biasa yang diseret, disiksa, dan dibantai tanpa peradilan? Kenapa mereka nggak pernah disebut, seolah nyawa mereka nggak sepenting itu?

Dan rasa sesak itu makin numpuk ketika aku belajar tentang Tan Malaka. Seorang pemikir besar, revolusioner, orang yang jauh sebelum 1945 udah ngomongin soal kemerdekaan dan visi Indonesia ke depan. Tapi ironinya, dia justru ditembak mati oleh tentara republik sendiri, oleh pasukan Brawijaya di bawah Mayor Soekotjo, tanpa peradilan, tanpa pembelaan, tanpa kesempatan bicara. Seorang pejuang yang sama-sama ingin Indonesia merdeka, malah dianggap ancaman dan disingkirkan oleh bangsanya sendiri. Namanya dihapus, jasanya dikubur, dan generasi kita bahkan hampir nggak pernah tahu perannya.

Saat tahu fakta-fakta kayak gini, rasanya mulai sulit buat nelen kalimat sederhana: “Kita merdeka.” Karena ternyata di balik “merdeka” itu ada intrik, pengkhianatan, perebutan kuasa, dan campur tangan asing. Kita dikasih versi manisnya, tanpa dikasih tahu luka-lukanya. Dan sekarang, ketika kita tahu, jadi aneh banget rasanya diminta untuk bangga.

Makanya, pas 17 Agustus kemarin, orang-orang rame lomba, posting bendera merah putih, teriak “Merdeka!” sekenceng-kencengnya, aku cuma bisa diem. Dulu aku juga ikut semangat, bahkan ikut upacara dengan dada bergetar bangga. Tapi sekarang, pas tahu sejarahnya nggak seindah yang diceritakan, rasanya… hampa. Aku jadi mikir, merdeka buat siapa, sih? Karena nyatanya, setelah 79 tahun pun, rakyat kecil masih dipinggirkan, suara mereka masih sering nggak didengar, dan yang di atas tetap rebutan kekuasaan, sama kayak dulu.

Dan kalau lihat kondisi Indonesia sekarang… makin berat rasanya buat ngerayain apa pun. Suara kritis dibungkam, media makin dikontrol, oligarki makin rakus, dan kita kayak jalan mundur balik ke pola Orde Baru. Jadi ketika diminta bangga jadi WNI, aku malah bingung: bangga sama apanya? Bangga sama sejarah yang setengah-setengah? Bangga sama negara yang kayaknya nggak pernah bener-bener berpihak sama rakyatnya sendiri?

Tapi jujur, di balik semua rasa kecewa ini, aku tahu aku belum berhenti peduli. Mungkin nasionalismeku sekarang bentuknya udah beda. Aku nggak bisa lagi ikut nasionalisme versi propaganda, yang cuma suruh hormat bendera dan nyanyi lagu wajib tanpa mikir. Kalau aku masih cinta Indonesia, itu karena aku sayang sama rakyatnya, bukan elitnya. Karena aku bangga sama budayanya, bukan sama sistemnya. Karena aku peduli sama sejarahnya, bahkan kalau itu berarti harus mempertanyakan kebenaran yang udah diwarisin sejak kecil.

Tapi tetap aja, melelahkan jadi orang Indonesia.
Capek disuruh bangga sama sesuatu yang seringkali cuma indah di atas kertas. Capek melihat sejarah dipelintir, suara rakyat diabaikan, dan luka-luka lama ditutup rapat. Kadang rasanya kayak hubungan toksik: kita sayang, tapi sering disakiti. Kita peduli, tapi sering diabaikan. Kita mau percaya, tapi sering dikecewakan.

Mungkin ini bukan soal berhenti cinta Indonesia, tapi belajar nerima kenyataan bahwa cinta ini datang dengan banyak luka. Dan sampai kapan pun, luka-luka itu bakal tetap ada, entah kita rayain kemerdekaan tiap tahun atau enggak.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Suara Pertama: Menulis untuk Mendengar Diri Sendiri

💭Unspoken Thoughts

Generasi Kita Bukan Malas, Tapi Burnout dan Bingung