Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2025

Kiri-Kanan dan Realita yang Tidak Pernah Sempurna

Gambar
Kadang aku mikir, kalau dunia ini beneran jalan sesuai teori, mungkin hidup bakal lebih gampang. Aku selalu ngerasa lebih deket sama prinsip kiri. Rasanya adil banget kalau semua orang setara, gak ada jurang kaya-miskin, gak ada buruh yang ditindas sama pemilik modal. Ide tentang alat produksi dimiliki bareng-bareng dan hasilnya dibagi sesuai kebutuhan kedengarannya kayak mimpi indah. Source: Dennis Adhiswara on X Tapi masalahnya, dunia gak pernah sesederhana itu. Lihat aja sejarah. Uni Soviet di bawah Lenin dan Stalin awalnya pengen bikin masyarakat tanpa kelas. Semua tanah, pabrik, dan sumber daya diambil alih negara, katanya demi pemerataan. Tapi kenyataannya, negara jadi pegang kekuasaan mutlak. Siapa yang deket sama partai punya akses lebih besar: makanan, rumah, pakaian, bahkan mobil. Sementara rakyat kecil sering cuma bisa pasrah. Stalin malah bikin kontrol lebih ketat, dan tragedi kayak Holodomor di Ukraina jadi bukti kalau realita jauh banget dari cita-cita. Tiongkok di bawah ...

#4Srikandi Yang Menjadi Monster Rekayasa

Gambar
Sejarah sering kali ditulis dari kacamata pemenang, dan itu terasa banget kalau kita ngomongin soal tragedi 1965 dan organisasi Gerwani . Selama ini, banyak generasi termasuk kita tumbuh dengan narasi tunggal yang dipaksakan tentang siapa yang “benar” dan siapa yang “salah.” Nama Gerwani, misalnya, hampir selalu dikaitkan dengan stigma kejam, jahat, dan tak bermoral. Kita diajarkan bahwa mereka adalah bagian dari PKI yang brutal, seolah satu-satunya identitas mereka hanyalah "perempuan pendukung komunis" yang dikisahkan melakukan kekerasan tak manusiawi di Lubang Buaya. Source: CNN Indonesia Tapi ketika menggali dokumen, arsip, dan penelitian yang lebih independen, ceritanya jadi jauh lebih kompleks. Banyak sejarawan dan peneliti kemudian menemukan bahwa narasi tentang Gerwani itu sebagian besar hasil konstruksi Orde Baru. Misalnya, cerita soal anggota Gerwani yang “menyilet alat vital para jenderal” di Lubang Buaya, ternyata tidak pernah terbukti. Hasil otopsi resmi dari ti...

Nasionalisme Yang Retak

Gambar
Setiap tanggal 30 September datang, suasananya selalu sama: postingan tentang G30S memenuhi timeline, himbauan untuk mengenang jasa tujuh jenderal, dan peringatan tentang “bahaya laten PKI” yang entah kenapa masih digembar-gemborkan. Dulu, waktu masih kecil, aku ikut larut. Nonton film “Pengkhianatan G30S/PKI” di sekolah, deg-degan, ngerasa takut, dan akhirnya percaya bulat-bulat sama satu cerita PKI dalang segalanya, para jenderal itu pahlawan, dan Soeharto penyelamat bangsa. Source: Aktual.com Tapi sekarang, setelah belajar sejarah lebih dalam, semuanya terasa… berbeda. Semua yang dulu kelihatan jelas, ternyata buram. Semua yang dulu terasa pasti, ternyata penuh tanda tanya. Ternyata sejarah yang diajarin ke kita itu nggak sesederhana hitam dan putih . Ada konflik elite, perebutan kekuasaan di tubuh militer sendiri, kepentingan asing yang ikut main, dan… korban sipil yang jumlahnya ratusan ribu orang , tapi namanya nggak pernah disebut dalam buku pelajaran. Selama 32 tahun Orde Baru...