Yang Kubiarkan Tumpah di Antara Kata
Awalnya aku nulis cuma karena gelisah. Nggak ada niat jadi writer, nggak ada rencana buat ngejar profesi content writer atau copywriter. Aku cuma pengin nulis apa yang ada di kepala, karena jujur, terlalu banyak yang muter-muter dan nggak tahu harus kemana. Blogspot jadi pelampiasan paling sunyi yang aku punya. Nggak ada promosi, nggak ada pembaca tetap. Kadang aku aja lupa isi tulisan aku sendiri apa. Tapi tetap aja, tangan ini terus ngetik, seolah tubuhku pengin bilang sesuatu yang otakku belum sempat pahami. Lalu pelan-pelan, aku mulai mikir: "Apa iya tulisan ini cuma buat aku sendiri?" Aku mulai buka Kompasiana. Coba nulis yang agak lebih ‘serius’. Tapi tetap, aku nggak pernah yakin. Ngerasa belum cukup. Ngerasa terlalu biasa. Ngerasa, siapa juga yang mau baca curhatan kayak gini? Padahal di saat yang sama, aku mulai lihat banyak orang yang bisa dapat penghasilan dari nulis. Dari freelance. Dari konten. Dari script. Dan itu bikin aku mikir: “Aku bisa gak ya? Layak gak ya ...